Friday, January 6, 2017

Daendels, si "tangan dingin" Kesuksesan Jalan Pantura

        Herman Willem Daendels (lahir di Perancis, 21 Oktober 1762 – meninggal di Elmina, Belanda Pantai Emas,2 Mei 1818 pada umur 55 tahun), adalah seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 1808 - 1811. 
tugas utama Daendels adalah melindungi pulau Jawa dari serangan Inggris. kenapa Inggris mengincar Jawa?, dan mengapa Daendels yang ditugaskan?
itu pasti pertanyaan yang muncul ketika membahas tentang tugas-tugas pak Daendels kan?. mari kita bahas satu persatu.
Kenapa Inggris mengincar Jawa?

seperti yang kita ketahui bersama kurun waktu 1808 - 1811 adalah masa dimana Hindia Belanda sedang dikuasai Perancis, lho kok Peancis? bukan Belanda? 
            pada masa itu Perancis berhasil mengalahkan Belanda pada Perang Koalisi di Eropa sana,                maka dari itu secara teknis Hindia Belanda juga ikut berada di bawah kekuasaan Perancis.
Alasan utama Inggris Menyerang Jawa adalah karena Jawa bagian penting dari Hindia Belanda, sedangkan Hindia belanda sedang dikuasai Perancis. Perancis dan Inggris adalah musuh abadi pada masa perang koalisi di Eropa. oleh karena itu Inggris berusaha merebut apapun yang berhasil dikuasai Perancis dalam rangka memenangkan perang koalisi.
Mengapa daendels yang ditugaskan?
Sejak muda daendels sudah berkiprah di dunia militer, keberhasilannya terlihat saat ia berhasil mempertahankan provinsie Friesland dan Groningen dari serangan Prusia, hal tersebut yang membuat ia direkomendasikan ke Jawa karena pertimbangan kehebatan dan sifatnya yang keras agak cenderung "kejam"
          Dalam rangka mengemban tugas mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris banyak hal yang dilakukan Daendels, slah satu yang paling fenomenal adalah membangun jalan pos atau sekarang disebut dengan Jalan Pantura yang menghubungkan Anyer dan Panarukan melewati Pantai Utara Jawa tanpa terputus. tujuan dibangun jalan ini selain mempermudah mobilitas juga difungsikan sebagai pusat informasi karena setiap beberapa kilometer dibuat satu pos informasi.
        Kontroversi terjadi tentang pembangunan jalan ini. Pada masa Daendels banyak pejabat Belanda yang dalam hatinya tidak menyukai Perancis tetapi tetap setia kepada dinasti Oranje yang melarikan diri ke Inggris. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena penentangan terhadap Daendels berarti pemecatan dan penahanan dirinya. Hal itu menerima beberapa orang pejabat seperti Prediger (Residen Manado), Nicolaas Engelhard (Gubernur Pantai Timur Laut Jawa) dan Nederburgh (bekas pimpinan Hooge Regeering). Mereka yang dipecat ini kemudian kembali ke Eropa dan melalui informasi yang dikirim dari para pejabat lain yang diam-diam menentang Daendels (seperti Peter Engelhard Minister Yogya, F. Waterloo Prefect Cirebon, F. Rothenbuhler, Gubernur Ujung Timur Jawa), mereka menulis keburukan Daendels. Di antara tulisan mereka terdapat proyek pembangunan jalan raya yang dilakukan dengan kerja rodi dan meminta banyak korban jiwa. Sebenarnya mereka sendiri tidak berada di Jawa ketika proyek pembangunan jalan ini dibuat. Ini terbukti dari penyebutan pembangunan jalan antara Anyer dan Panarukan, padahal Daendels membuatnya dimulai dari Buitenzorg. Sayang sekali arsip-arsip mereka lebih banyak ditemukan dan disimpan di arsip Belanda, sementara data-data yang dilaporkan oleh Daendels atau para pejabat yang setia kepadanya (seperti J.A. van Braam, Minister Surakarta) tidak ditemukan kecuali tersimpan di Perancis karena Daendels melaporkan semua pelaksanaan tugasnya kepada Napoleon setelah penghapusan Kerajaan Belanda pada tahun 1810. Sejarawan Indonesia yang banyak mengandalkan informasi dari arsip Belanda ikut berbuat kesalahan dengan menerima kenyataan pembangunan jalan antara Anyer-Panarukan melalui kerja rodi.
         Kontroversi lain yang menyangkut pembangunan jalan ini adalah tidak pernah disebutkannya manfaat yang diperoleh dari jalan tersebut oleh para sejarawan dan lawan-lawan Daendels. Setelah proyek pembuatan jalan itu selesai, hasil produk kopi dari pedalaman Priangan semakin banyak yang diangkut ke pelabuhan Cirebon dan Indramayu padahal sebelumnya tidak terjadi dan produk itu membusuk di gudang-gudang kopi Sumedang, Limbangan, Cisarua dan Sukabumi. Begitu juga dengan adanya jalan ini, jarak antara Surabaya-Batavia yang sebelumnya ditempuh 40 hari bisa disingkat menjadi 7 hari. Ini sangat bermanfaat bagi pengiriman surat yang oleh Daendels kemudian dikelola dalam dinas pos. Pembangunan jalan ini pun tidak terlepas dari banyaknya pekerja pribumi yang mati dan dibuang di sekitar proyek akibat kelelahan harus bekerja non stop di bawah tekanan tinggi pemerintah. 
         Terlepas dari segala kontroversi tersebut, sampai detik ini 200 tahun-an setelah dibuatnya jalan tersebut manfaatnya masih dapat dirasakan. denyut mobilitas ekonomi dan transportasi khususnya di Pulau Jawa sedikit banyak bergantung pada jalur ini. Setidaknya patutlah kita berterimakasih atas "tangan dingin" Daendels. Apapun yang terjadi kita tidak bisa mengubah sejarah, tidak ada yang dapat dilakukan selain mengambil hikmah dari setiap kejadian. Mari berpikir positif..

sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Herman_Willem_Daendels
http://www.kompasiana.com/odiology/beratnya-beban-pantura

No comments:

Post a Comment